Minggu, 22 Agustus 2021

“Islam Madani” Versus “Islam Medeni”

Kontestasi "Islam Madani" versus "Islam Medeni"
By Sumanto al Qurtuby

Upaya Mengatisipasi Radikalisme Di Indonesia - Suaradewata.com

"Islam madani" versus "Islam medeni": Bagaimana kontestasi kedua kelompok ini di masa mendatang? Simak pasang surutnya di peta politik Indonesia dalam kolom Sumanto al Qurtuby.

Belum lama ini saya memberi kuliah umum secara daring di Program Studi Islam Madani (Falsafah dan Agama), Universitas Paramadina, tentang kontestasi antara kelompok "Islam madani" versus "Islam medeni" di Indonesia dan Arab Saudi.

Yang dimaksud "Islam madani" di sini kurang lebih adalah jenis keislaman yang bercorak moderat,toleran, inklusif, dan pro-kebhinekaan serta menjunjung tinggi keadaban dan tradisi berpikir kritis-akademis dalam memahami wacana keagamaan, keislaman, dan sosial-

kemasyarakatan. Inilah jenis keislaman yang diidealkan, diperjuangkan, sekaligus ingin diwujudkan di Indonesia oleh almarhum Profesor Nurcholish Madjid (Cak Nur), pendiri Universitas Paramadina. Nama "paramadina" sendiri mengandaikan "Islam madani" itu yang diinspirasi oleh penggantian nama Yatsrib menjadi Madinah oleh Nabi Muhammad.

Sementara itu, yang dimaksud "Islam medeni" di sini kira-kira adalah jenis keislaman yang bercorak radikal-ektremis, eksklusif, intoleran, anti-keragaman, suka bertindak atau mendahulukan kekerasan (radikalisme) dalam menyelesaikan masalah sosial-keagamaan serta minus pikiran kritis-akademis dalam memahami dan menafsirkan teks dan wacana keislaman dan keagamaan.

Kata "medeni" di sini diambil dari bahasa Jawa yang berarti "menakutkan" karena memang tampilan mereka yang menakutkan masyarakat luas lantaran suka main kasar, "ngamukan" dan hobi berbuat onar di masyarakat.

Ekspresi atau tampilan kedua kelompok ini di masyarakat tidak sama. Misalnya, kelompok "Islam medeni" itu bervariasi ekspresinya. Ada yang "ultraekstrem" dan mematikan seperti kelompok teroris yang suka ngebom di tempat-tempat umum: tempat ibadah, hotel, restauran, café, kantor polisi dlsb.

Ada yang suka melakukan aksi-aksi vigilantisme atau persekusi seperti menggeruduk umat agama, sekte, atau kelompok Islam lain yang tidak sepaham atau sehaluan dengan mereka. Ada pula yang suka melakukan "kekerasan verbal" melalui perkataan atau ucapan seperti ujaran kebencian (hate speech), provokasi, dan pernyataan intoleransi terhadap kelompok lain.

Kelompok "Islam madani" pun demikian. Ada yang sebatas "moderat" dan "toleran", baik dalam perkataan maupun tindakan. Ada pula yang tingkatannya lebih tinggi sedikit, yaitu sikap "pluralis" (atau mereka yang berpegang pada prinsip pluralisme) yang bukan hanya sebatas bersikap moderat dan toleran terhadap umat agama lain tetapi juga diiringi dengan tindakan "deep engagement and dialogue", baik melalui tindakan pergumulan fisik (bahasa Jawa: "srawung") maupun dengan mempelajari serta keinginan kuat untuk mengetahui dan menggali lebih jauh aneka ragam praktik keagamaan umat lain.

Aneka ragam kelompok

Penting untuk diketahui bahwa baik kelompok "Islam madani" maupun kelompok "Islam medeni" bukanlah unik Indonesia. Hampir di setiap negara, khususnya yang berpenduduk mayoritas muslim, memiliki kelompok ini. Bahkan di negara-negara di Eropa, Amerika Utara, atau Australia dlsb, kelompok "Islam madani" dan "Islam medeni" juga ada.

Tentu saja, "ekstremisme" dan "moderatisme" bukan hanya monopoli umat Islam. Umat agama lain pun memiliki kecenderungan yang sama: ada kelompok agama yang bercorak ekstrem di satu sisi, dan moderat di pihak lain.

Kedua kelompok ini saling berebut pengaruh di masyarakat untuk merebut "hati" umat Islam. Dalam sejarah Islam, fenomena ini bukanlah hal baru sebetulnya. Sudah sejak masa awal formasi Islam di abad ke-7 M, kontestasi antara kelompok "Islam madani" dan "Islam medeni" ini sudah ada yang kemudian kelak menjadi aneka ragam mazhab, aliran, sekte, atau kelompok keislaman.

Dalam konteks Islam, perseteruan politik setelah wafatnya Nabi Muhammad (w. 632 M) menyebabkan umat Islam terbelah menjadi aneka ragam kelompok sektarian dengan beragam ekspresi sosial-kepolitikan dan keislaman.

Ada kelompok yang "pasrah" serta mengedepankan "quietism" dan "apolitis" seperti Murji'ah tetapi ada pula kelompok yang sangat ekstrem dan frontal melakukan tindakan kekerasan bahkan dengan melancarkan serangkaian aksi pembunuhan sistematis pada para tokoh dan sekelompok Muslim yang berseberangan dengan mereka seperti yang dilakukan oleh kaum Khawarij.  

Dari dulu hingga kini, mereka sama-sama mengembangkan strategi, mekanisme, cara, dan taktik tertentu dalam berdakwah, "berjuang", bersosialisasi, dan bermasyarakat agar mendapat simpati publikMuslim dan banyak pengikut.

Bedanya, kelompok "Islam medeni" tidak sungkan-sungkan menggunakan pendekatan kekerasan (fisik maupun verbal) sedangkan kelompok "Islam madani" tidak menyukai kekerasan fisik tetapi lebih menyukai atau mengedepankan "perang pemikiran" (battle of thought).

Mereka juga sama-sama menggunakan legitimasi atau justifikasi teks-teks keislaman yang diambil dari Al-Qur'an, Hadis, atau dalam konteks kontemporer ditambah kitab-kitab atau pendapat (aqwal) para ulama panutan mereka, baik yang klasik maupun modern, guna mendukung dan memperkuat pendapat, pemikiran, dan praktik keagamaan yang mereka lakukan.

Pula, khususnya dalam konteks kontemporer seiring dengan perkembangan teknologi, mereka menggunakan beragam media (cetak, visual, audio-visual, online atau melalui perkumpulan dan pengajian rutin) dan aneka institusi (masjid, madrasah, ormas, Islamic center dlsb) untuk menyebarluaskan ide-ide mereka. Dulu, perseteruan dilakukan melalui masjid atau forum-forum pertemuan publik saja.

Menjalin patronase dengan kekuasaan

Dalam sejarahnya dan bahkan hingga kini, baik kelompok "Islam madani" maupun "Islam medeni" sama-sama berusaha menjalin patronase dengan kekuasaan (rezim politik) untuk melanggengkan gagasan dan visi-misi mereka di masyarakat. Hal itu bisa dimaklumi karena kekuasaan politiklah yang mempunyai atau memegang otoritas dan akses terhadap sumber-sumber ekonomi, finansial, dan kepolitikan.

Dalam upaya untuk berpatron dengan kekuasaan ini, ada kalanya kelompok "Islam madani" yang berhasil dan kemudian ikut mengontrol produksi wacana keislaman tetapi kadang kelompok "Islam medeni" yang berhasil "berbulan madu" atau bersinergi dengan kekuasaan yang kemudian "membabat" habis rival-rival politik dan agama mereka. Misalnya, kelompok Sahwa di Arab Saudi untuk contoh "Islam medeni" di awal 1980an tetapi sejak beberapa tahun terakhir, kelompok "Islam madani" yang berpatron dengan pemerintah.

Tetapi ada pula yang kemudian berubah, mengalami transformasi atau menjelma dari kelompok agama menjadi kelompok politik karena sukses mengontrol teritori negara. Contohnya, untuk kasus "Islam medeni", adalah fenomena kaum Taliban di Afghanistan pada pertengahan 1990an atau kelompok "Revolusi Islam" di Iran pada akhir 1970an.

Kalau melihat data-data sejarah dari dulu hingga kini, kelompok "Islam madani" yang lebih banyak "diatas angin" dalam pengertian sukses menjalin koalisi dengan otoritas politik. Meskipun di beberapa negara yang mayoritas berpenduduk Muslim di Timur Tengah dan Afrika (sebut saja Mesir, Lebanon, Palestina, Sudan, Aljazair, Iran, atau Yaman) kontestasi kedua kelompok cukup dinamis dan fluktuatif dari waktu ke waktu dalam hal perebutan akses kekuasaan politik-pemerintahan.

Ada kalanya kelompok "Islam madani" yang unggul tetapi kadang kelompok "Islam medeni" yang sukses.

Siapa yang menang?

Dalam konteks Indonesia, kontestasi kedua kelompok selalu dimenangkan oleh "Islam madani", meskipun sudah sejak awal kemerdekaan kelompok "Islam medeni" berusaha merebut, mengontrol, dan mendominasi kekuasan dan negara seperti yang dilakukan oleh para pendukung Darul Islam / Tentara Islam Indonesia (didirikan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo pada tahun 1949)

Baik Sukarno maupun Suharto sama-sama antikelompok "Islam medeni", meskipun di akhir-akhir kekuasaan Pak Harto ia menjalin "kongkalikong" dengan kelompok "Islam medeni" untuk mengimbangi atau membendung gerakan "Islam madani" yang mulai berani mengkritik kekuasan, pemerintah, dan Pak Harto.

Setelah Pak Harto tumbang, kelompok "Islam medeni" mendapatkan "angin surga". Mereka terus berusaha menggelembungkan diri dengan berbagai cara, misalnya memperbanyak ormas, membuat sekolah, atau secara terbuka berceramah. Jadi, demokrasi adalah "berkah" buat kelompok karena demokrasilah mereka bisa berkembang biak. Ironisnya, mereka sering mengkritik demokrasi karena dianggap produk sekuler-Barat yang tidak Islami.

Kelompok "Islam medeni" juga terus berusaha mempengaruhi para pemangku kebijakan (pemerintah atau politisi) untuk memuluskan jalan bagi pembuatan berbagai peraturan hukum (Perda, Pergub, Surat Edaran, dlsb) yang diambil dari aturan hukum Islam tertentu.

Meskipun demikian, hingga kini, kelompok "Islam medeni" ini belum berhasil menguasai kekuasaan politik-pemerintahan. Nasib mereka semakin tersungkur karena Presiden Joko Widodo dan jajarannya mulai gencar membungkam kelompok ini serta memangkas jaringan dan sel-sel mereka. Itu belum lagi ditambah gerakan masif-intensif yang dilakukan oleh para eksponen "Islam madani" seperti Nahdlatul Ulama yang gencar "memerangi" pemikiran dan gagasan "Islam medeni".

Bagaimana "nasib" kelompok "Islam medeni" ini ke depan? Bagaimana kontestasi kedua kelompok ini di masa mendatang? Waktu nanti yang akan menjawabnya.
 
Sumanto Al Qurtuby adalah Direktur Nusantara Institute; dosen antropologi budaya di King Fahd University of Petroleum & Minerals, Arab Saudi; Visiting Senior Scholar di National University of Singapore, dan kontributor di Middle East Institute, Washington, D.C

Jumat, 13 Agustus 2021

Mencla-Mencle Soal di Jatim Sudah Ada Herd Immunity, Seknas Jokowi: Khofifah Otoriter dan Tidak Mau Dapat Saran Dari Masyarakat

Mencla-Mencle Soal di Jatim Sudah Ada Herd Immunity, Seknas Jokowi: Khofifah Otoriter dan Tidak Mau Dapat Saran Dari Masyarakat

Anies dan Khofifah Hadiri Kongres Partai Nasdem, Apa Maknanya?

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dinilai mejadi kelihatan otoriter, anti kritik dan tidak mau mendapat masukan dari masyarakat.

Hal ini disampaikan oleh Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi Jatim pada Jumat (13/8/2021), menanggapi polemik yang muncul akibat perilaku Khofifah dalam menangani pandemi covid-19. Dimana sebelumnya Khofifah menyatakan bahwa ada daerah di Jatim yakni Surabaya dan Mojokerto sudah mencapai Herd Immunity atau kekebalan komunal.

Klaimnya yang dimuat dan viral di berbagai media itu tentu saja memicu kritik, saran dan masukan dari masyarakat agar sebagai Gubernur . Khofifah tidak sembarangan klaim bahwa sudah ada Herd Immunity di Jatim.  Karena jika sudah ada Herd immunity, tentunya tidak perlu lagi ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dengan dalih untuk mencegah meluasnya penularan covid-19.

Setelah panen kritik, tiba-tiba Khofifah menyangkal bahwa sebelumnya dia pernah menyatakan bahwa kota Mojokerto dan kota Surabaya sudah mencapai Herd Immunity.

Untuk itu entah ada faktor apa, ada media yang menghapus pemberitaan "Khofifah Sebut Surabaya dan Mojokerto Sudah Herd Immunity" dan menggantinya dengan berita lain. Akan tetapi sebelum dihapus dan diganti dengan berita lain, sudah banyak masyarakat yang melakukan screenshoot atau tangkap layar atas berita tersebut, sehingga jejak digital tidak sempat terhapus/hilang.

Sedangkan beberapa media tidak mau menghapus pemberitaan "Khofifah Sebut Surabaya dan Mojokerto Sudah Herd Immunity", karena bisa jadi mereka memang mendengar pernyataan Khofifah seperti itu dan atau memiliki rekamannya.

" Dari rentetan ini, Khofifah terlihat otoriter, anti kritik dan tidak mau mendapat masukan dari masyarakat", kata Sapto Raharjanto, ketua DPW Seknas Jokowi Jatim.

Sebagaimana viral diberitakan, pada Jumat 6 Agustus 2021 Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa sebut Surabaya dan kota Mojokerto sudah mencapai Herd Immunity.

Dengan pernyataannya itu, Khofifah diingatkan oleh berbagai kalangan masyarakat, diantaranya oleh Deni Wicaksono, anggota Komisi E DPRD Jatim yang menbidangi kesehatan, agar hati-hati membuat narasi atau klaim adanya pencapaian herd immunity pada sejumlah daerah di Jatim.

Saran atau nasehat yang diberikan oleh Deni pada Sabtu 7 Agustus 2021 itu karena herd immunity baru terwujud ketika sebagian besar orang dalam kelompok sudah memiliki kekebalan terhadap penyakit infeksi. Salah satu jalannya lewat vaksinasi. Konsensus ahli, sekitar 70 persen warga tervaksin, tapi dalam konteks Covid-19, itu tercapai ketika sudah lengkap dua dosis. Faktanya, tidak ada satu pun kabupaten/kota atau provinsi di Indonesia yang telah mencapai itu.

Deni menyebut pernyataan  Khofifah itu menjerumuskan karena berpotensi membuat masyarakat di daerah yang disebut Khofifah sudah herd immunity lengah terhadap Covid-19 yang masih mengganas.

Pernyataan Khofifah itu menurut Deni, juga juga berpotensi mengadu domba karena publik di daerah tersebut akan memprotes keras pemerintah kota atau kabupatennya, mengapa tetap ada pembatasan (PPKM) ketika herd immunity sudah diklaim oleh Gubernur Jatim

Begitu diingatkan atau diberi saran, entah ada apa sontak beberapa media menghapus berita yang berisi klaim Khofifah bahwa di Jatim sudah ada daerah yang mencapa herd immunity, akan tetapi beberapa media lain tidak mau menghapus pemberitaan tersebut.

Dan pada Senin 9 Agustus 2021, saat mengudara pada sebuah acara radio sebagaimana disiarkan https://www.instagram.com/p/CSWLCmlMCbw/ , Khofifah menyangkal bahwa dirinya pernah bilang bahwa Kota Mojokerto dan Surabaya sudah mencapai herd immunity.

Bantahan Khofifah pada siaran tersebut akhirnya menuai banyak kritik dari para pemirsa, diantaranya yang disuarakan oleh @umaralhakimhakim yang menyatakan "Alasane uakeh (alasannya buanyak), pemimpin yang baik itu sebelum melempar pernyataan harus disesuaikan dengan data dan realita".

Sedangkan @andik_rekkles berkomentar "Omonganmu mbulet koyo... (Bicaramu ruwet/ silang sengkarut seperti...)"

Malah ada yang sinis seperti @erryseptiawan yang menyindir "Ayo bu pesta ulang tahun maneh, mumpung PPKM belum ditutup (Ayo bu pesta ulang tahun lagi, mumpung PPKM belum ditutup)


Ketua Seknas Jokowi Jatim
Sapto Raharjanto
HP/WA: 082141751575

Selasa, 03 Agustus 2021

SELAMAT TAHUN BARU KȆJAWEN

SELAMAT TAHUN BARU KȆJAWEN

SEJARAH AKSARA JAWA (PART 04) - Website Kepek

Memadukan penanggalan Śaka Jawa yang mempergunakan peredaran matahari dan bulan sebagai basic perhitungan dengan penanggalan Hijriyah Islam yang mempergunakan peredaran bulan saja sebagai basic perhitungan, pada tahun 1555 Śaka Jawa, Kangjêng Sultan Agung Prabhu Anyakrakusuma, Raja Mataram ke-3 yang memerintah pada 1613-1645 Masehi, mengesahkan adanya kalender baru bagi Tanah Jawa, yaitu Kalender Jawa atau Kalender Kêjawen. Perhitungan tahun tidak dimulai dari tahun 1, melainkan meneruskan perhitungan tahun Śaka Jawa yang sudah menginjak tahun 1555. Ini terjadi tepat pada tahun 1633 Masehi.

Sistem perhitungan rumit dan pelik Śaka Jawa hampir semua di adopsi namun kebanyakan sudah diubah namanya menjadi nama-nama Arab. Bahkan nama bulan pun juga mempergunakan nama-nama Arab. Paling kentara adalah penamaan nama hari yang semula mempergunakan nama Kawi diubah menjadi nama Arab.

1. Radite – Ahad (logat Jawa : Ngahad)
2. Soma – Itsnain (logat Jawa : Sênen)
3. Anggara – Tsalatsah (logat Jawa : Sêlasa)
4. Budha – Arba'ah (logat Jawa : Rêbo)
5. Rêspati – Khomsah (logat Jawa : Kêmis)
6. Sukra – Jama'ah (logat Jawa : Jumngat)
7. Tumpak – Sab'ah (logat Jawa : Sêbtu)

Nama-nama bulan pun juga diubah dari Kawi ke Arab.

1. Warana– Syura (logat Jawa : Sura)
2. Wadana– Shofar (logat Jawa : Sapar)
3. Wijangga– Rabi'ul Awwal/Maulid (logat Jawa : Mulud)
4. Wiyana– Rabi'ul Akhir/Ba'da Maulid (logat Jawa : Bakda Mulud)
5. Widada– Jumadil Awwal (logat Jawa : Jumadilawal)
6. Widarpa– Jumadil Akhir (logat Jawa : Jumadilakir)
7. Wilapa– Rojab (logat Jawa : Rêjêb)
8. Wahana– Arwah (logat Jawa : Ruwah)
9. Wanana– Ramadlan (logat Jawa : Ramêlan/Pasa)
10. Wurana– Syawal (logat Jawa : Sawal)
11. Wujana– Dzulqoidah (diganti Sêla)
12. Wujala– Dzulhijjah (diganti Bêsar)

Masih banyak nama-nama Kawi diganti menjadi nama Arab yang cenderung Islami, termasuk pembagian perhitungan waktu dalam Jawa semenjak jaman Buda yang dibagi menjadi 5 waktu dalam sehari semalam diganti menjadi :

1. Maheśwara diganti Ahmad (logat Jawa : Akmad)
2. Wiṣṇu diganti Jabarail
3. Brahmā diganti Ibrahim
4. Śrī diganti Yusuf(logat Jawa : Yusup)
5. Kāla diganti Izrail(logat Jawa : Ngijrail)

Pendek kata, Kangjêng Sultan Agung Prabhu Anyakrakusuma ingin menunjukkan kepada dunia Islam, khususnya kepada Kekhalifahan Turki Utsmani yang merupakan pusat Kekhalifahan Islam pada waktu itu bahwa beliau benar-benar berkomitmen menyebarkan Islam di Tanah Jawa tidak hanya setengah-setengah. Karena upayanya tersebut, beliau mendapat gelar Sultan dari penguasa Ka'bah pada 1641 Masehi. Sebelumnya beliau hanya mempergunakan gelar Kangjêng Susuhunan Prabhu Anyakrakusuma. Kalender Jawa yang disahkan oleh beliau resmi menjadi kalender Jawa-Islam alias Kalender Kêjawen. Demikian kenyataan dan faktanya.

Pada awalnya ketika disahkan, tanggal 1 Sura tahun Alip 1555, dimulai pada hari Jum'at Lêgi. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Jamngiyah (Jam'iyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Ajugi, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Jum'at Lêgi.

Pada 1 Sura tahun Alip 1675, dimulai pada hari Kêmis Kliwon. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Kamsiyah (Khamsiyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Amiswon, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Kêmis Kliwon.

Pada 1 Sura tahun Alip 1795, dimulai pada hari Rêbo Wage. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Arbangiyah (Arba'iyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Aboge, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Rêbo Wage.

Pada 1 Sura tahun Alip 1915, dimulai pada hari Sêlasa Pon. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Salasiyah (Tsalatsiyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Asapon, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Sêlasa Pon.

Masa kita sekarang telah mempergunakan Kurup (Huruf) Salasiyah (Tsalatsiyyah). Ini berlaku semenjak 19 Oktober 1982 Masehi. Celakanya di pedesaan Jawa masih banyak yang tidak memahami pergantian Kurup (Huruf) ini sehingga mereka tetap mempergunakan perhitungan Kurup (Huruf) Arbangiyah (Arba'iyyah) atau Aboge. Hasilnya, semenjak tahun 1915 Jawa atau 1982 Masehi, tanggal 1 Sura di pedesaan akan maju satu hari. Menjadi kewajiban kita sebagai pemerhati budaya untuk meluruskan hal ini agar tidak berlarut-larut sehingga menyebabkan adanya kesalahan fatal dalam perhitungan hari karena kalender Jawa menyangkut dengan pemilihan hari baik dan buruk.

Sesuai Kurup (Huruf) Salasiyah (Tsalatsiyyah) atau Asapon, tahun baru Sura atau tanggal 1 Sura tahun Alip 1955 kali ini, jatuh pada hari Sêlasa Pon atau bertepatan dengan tanggal 10 Agustus 2021. Yang masih mempergunakan Aboge tahun baru Sura mempergunakan hari Rêbo Wage tanggal 11 Agustus 2021, dan perhitungan itu salah. Pelurusan perlu digalakkan.

Sugêng warsa enggal Kêjawen

Sêlasa Pon, 1 Sura 1955 Alip, Wuku Kulawu, Windu Sangara.

Mugi tansah pinaringan têguh rahayu slamêt tan ana baya-bayane, luput ing sambekala. Tansah satuhu rahayu. Sarwa hayu!

Senin, 02 Agustus 2021

Panglima TNI Bela Peran Bantuan TNI Polri Yang Diremehkan dan Disindir Khofifah

Panglima TNI Bela Peran Bantuan TNI Polri Yang Diremehkan dan Disindir Khofifah

Cek Protokol Kesehatan, Panglima TNI, Kapolri & Khofifah Tinjau Pasar Ini

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto membela peran TNI dan Polri yakni Babinsa dan Bhabinkamtibmas dalam membantu melakukan tracing atau pelacakan kontak erat pasien Covid-19 yang sebelumnya diremehkan dan disindir oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Hadi menyatakan bahwa rasio tracing di Jawa Timur 1:29 atau satu pasien positif Covid-19 sebanyak 29 dites swab PCR. Menurutnya, angka tersebut sudah sesuai standar Badan Kesehatan Dunia (WHO).

"Rasionya 1 banding 29, itu sudah masuk standar WHO loh Ibu Gubernur," kata Hadi kepada Forkopimda Jatim saat berdialog dengan tim tenaga kesehatan Mojokerto, Minggu (1/8/2021.

Hadi pun menguji kemampuan anggota Babinsa dan Bhabinkamtibmas dalam pengoperasian aplikasi Sistem Informasi Pelacakan (SiLacak) dan inaRISK, serta koordinasi 4 pilar, hingga bagaimana memperlakukan pasien Covid-19.

Koordinasi tersebut diuji dengan melakukan komunikasi melalui telepon antara Babinsa maupun Bhabinkamtibmas kepada pasien Covid-19 yang sedang melakukan isolasi mandiri untuk mengetahui perkembangan kesehatan secara berkala.

Dalam Kunjungan Panglima TNI ke Puskesmas Gayaman Mojokerto, Puskesmas Sukomoro Nganjuk, Puskesmas Balerejo Madiun, ia didampingi oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Kabaharkam Polri Komjen Arief Sulistyanto, Pangdam V Brawijaya Mayjend Suharyanto, Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta.

Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan pelaksanaan 3T serta penerapan aplikasi Silacak dan aplikasi inaRISK.

Untuk diketahui, bahwa sebelumnya pada Forum Guru Besar  Fakultas Kedokteran Airlangga, Jumat (30/7/2021) Khofifah terkesan meremehkan dan menyindir peran Babinsa dan Bhabinkamtibmas yang membantu melakukan tracing atau pelacakan kontak erat pasien Covid-19

Itu disampaikan saat Khofifah mengakui tracing atau pelacakan kontak erat pasien positif Covid-19 di wilayahnya masih sangat rendah.

Dalam Forum itu, sebagaimana dilansir CNN, Khofifah mengaku menerima keluhan petugas tracing yang kesulitan mengoperasikan aplikasi Silacak, dimana program ini diluncurkan Kementerian Kesehatan untuk penguatan tracing.

Menurutnya, sejumlah petugas tracer, yang terdiri dari Babinsa TNI AD dan Bhabinkamtibmas Polri ternyata mengalami kendala saat melakukan entry data di aplikasi Silacak.

"Kalau sekarang yang diturunkan Babinsa dan Bhabinkamtibmas ngapunten (mohon maaf) ini bukan bidangnya," kata Khofifah saat itu

Minggu, 01 Agustus 2021

Emil Dardak: Kasus Covid-19 di Jatim Melandai Tapi Masih Tinggi

Emil Dardak: Kasus Covid-19 di Jatim Melandai Tapi Masih Tinggi

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bersama Rektor ITS Mochamad Ashari dan Ketua IKA ITS Wahid Wahyudi menyaksikan proses vaksinasi di Graha ITS pada Minggu (1/8/2021).

"Minimal kita sedang melihat melandainya kasus aktif meskipun grafik melandainya masih tinggi, Kita harus sangat hati-hati membuka kegiatan ekonomi jangan sampai melonjak lagi" tuturnya

Data tadi pagi yang saya dapat keterisian ICU 1.193 dari 1.479 ini ada ini 81% kemudian untuk tempat tidur isolasi 12.640 dari 17.879 jadi kurang lebih ada di 71% isolasi selanjutnya antrian IGD 380 tertinggi kota Malang 90 disusul Surabaya 76, kota Madiun 32" imbuhnya.

BOR dan IGD menunjukan tren penurunan dibeberapa daerah di Jawa Timur

"Terkait BOR untuk antrian di IGD berdasarkan data terbaru sudah turun dibawah 400an kita pernah menyentuh di 800an sekerang sudah turun, ada beberapa daerah seperti malang ini kok sudah nyalip Surabaya untuk jumlah antriannya padahal sudah ada RS Darurat yang okupansinya sudah mulai turun" tuturnya.

"Untuk ICU sendiri awal bisa menyentuh 20an untuk zona hitam hari ini ada dikisaran 15an, tolong jangan kita lupa ini bisa membaik karena kita membatasi aktivitas kita" Imbuhnya.

Mantan Bupati Trenggalek itu menjelaskan kondisi beberapa daerah

"Seperti Trenggalek yakni 19, ini  sebenarnya ngga banyak tetapi untuk ukuran Trenggalek ini sudah banyak ini  kami coba cek ke pak Bupati. Sebenarnya antrian IGD ini sudah turun dan BOR sudah turun" jelasnya

"Begitu juga dengan Malang kami tadi sudah kontak pak Walikota Malang untuk mengurai penumpukan di IGD, kita bisa identifikasi nanti apakah ini menumpuk di IGD RS tertentu sehingga tidak terdistribusi, sebenarnya bisa didistribusikan ke RS lain yang bisa merawat" tambahnya.

Prokes Covid 19 varian delta berbeda

"Prokes Covid 19 yang lalu unutk adaptasi kebiasaan baru berbeda dengan prokes untuk varian delta ini, kita ini sedang sangat hati-hati untuk menerapkan prokes yang bisa kita terapkan dimasyarakat dan tentunya pemerintah pusat akan memberikan kebijakan yang baik" ungkapnya.

"Kita layak bersyukur kasus aktif barunya di Surabaya lebih rendah dibandikan kasus sembuhnya sehingga kasus aktifnya berkurang tetapi ini baru terjadi di Surabaya dan beberapa daerah lain, kebanyakan daerah-daerah lain masih naik" tutupnya.

Jumat, 30 Juli 2021

Ada Permintaan Khofifah Diusung Bersama Anies Pada Pilpres 2024

Ada Permintaan Khofifah Diusung Bersama Anies Pada Pilpres 2024

Indonesia akan menggelar pemilihan presiden (Pilpres) pada 2024 mendatang. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengklaim ada permintaan agar PPP mengusung Khofifah Indar Prawansa dan Anies Baswedan.

"Sebagai partai politik PPP tentu tidak menutup aspirasi dari berbagai elemen masyarakat yang meminta PPP untuk mempertimbangkan sejumlah nama, termasuk Anies dan Khofifah," kata Wakil Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani, Jumat (30/7/2021).

Arsul Sani tidak merinci siapa elemen masyarakat yang ingin PPP mengusung Anies dan Khofifah. Dia hanya mengatakan Pilpres 2024 masih lama.

"Karena itu PPP memandang saat ini belum pas untuk secara intensif membahas soal sosok yang akan diusung dalam Pilpres 2024," lanjutnya.

Politisi PPP ini sebagaimana dilansir IdnTimes melanjutkan bahwa tidak ada larangan bila ada elemen masyarakat yang mulai menyuarakan sosok potensial untuk Pilpres 2024. Sebab, Indonesia ini adalah negara demokrasi.

Sebelumnya, ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera menjelaskan PKS berkomunikasi dengan semua kalangan untuk berkoalisi saat Pemilu 2024. Bahkan PKS tidak hanya berkomunikasi dengan partai politik saja. Namun Mardani tidak merinci sudah berkomunikasi dengan partai mana saja.

"Hingga PKS membuka komunikasi dengan semua pihak, termasuk tokoh dan partai politik karena pemilik tiket adalah partai politik. Lalu dari komunikasi tersebut kita mulai membangun kerangka," terangnya.

Kamis, 29 Juli 2021

MATI CORONA ALA MADURA

MATI CORONA ALA MADURA
Oleh : Firman Syah Ali


Update Corona RI 29 Juli: Pasien Sembuh 45.494, Kasus Baru 43.479

Akhir-akhir ini banyak sekali orang meninggal dunia di Madura, diantara mereka ada saudara, tetangga, teman sekolah bahkan mantan saya. Berita-berita kematian itu sebagian saya dengar sendiri secara langsung melalui pengeras suara Masjid, sebagian melalui cerita tamu selama saya menjalani Isolasi Mandiri, namun sebagian besar saya baca di media sosial.

Selama saya menjalani isolasi mandiri, saya sama sekali tidak keluar rumah, saya berada di kompleks tanean lanjang Bani Hasyim Dusun Seccang, Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Kab Pamekasan. Begitu saya selesai Isolasi Mandiri barulah saya keluar rumah.

Begitu keluar rumah saya kaget melihat aktivitas warga normal seperti biasa, padahal berita duka terus bertalu-talu dari ujung ke ujung. Pasar Blumbungan tetap ramai bahkan macet, orang-orang santai ceria tanpa masker, tukang amal masjid teriak-teriak dengan kalimat-kalimat yang lucu. Belok kiri ke arah Aeng Pennay saya jumpai banyak rombongan mantenan tanpa masker, sebagian diantaranya naik pick up bak terbuka penuh sesak juga tanpa masker, bergembira ria dalam rombongan mantenan sanak saudaranya itu.

Saya main ke rumah sepupu, dia baru datang dari tahlilan. Saya bertanya "sakit apa yang kamu tahlili itu?", dengan santai dia jawab "yaa sakit yang sekarang ini". Buahahaha istilahnya bukan corona kalau di Madura, tapi "penyakit yang sekarang ini". Mereka ya tidak dilaporkan ke puskesmas, dimandikan biasa, disholati dan ditahlili biasa, sehingga tidak masuk data resmi korban Corona di Kabupaten setempat. Begitu usai tahlilan biasanya beberapa tetangga dan keluarga almarhum menyusul meninggal dunia, namun tetap saja tidak disebut corona, mereka disebut mati kena penyakit yang sekarang ini. Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi, disebut mati sesak nafas, mati capo' cap (influenza)  dan banyak lagi istilah lainnya, yang intinya orang madura menghindari istilah Corona yang dengan sendirinya menghindari protokol Covid-19 terhadap jenazah keluarga/tetangganya.

Bahkan yang terbaru di Pamekasan muncul tradisi baru, yaitu menghentikan siaran berita duka melalui pengeras suara. Bahkan di beberapa grup WA masyarakat Madura saya dimusuhi dan dimarahi ramai-ramai gara-gara selalu posting berita duka, padahal orang yang saya posting berita dukanya itu merupakan orang-orang yang mereka kenal juga.

Akhirnya saya berpikiran jangan-jangan ini cara orang madura untuk melindungi dirinya dari serangan pembunuh imun. Mereka tidak mau imun mereka runtuh terkapar gara-gara dengar nama corona, protokol kesehatan dan berita duka. Mereka ingin anggap itu semua tidak ada. Atau ini mungkin cara mencapai Herd Immunity alami ala Madura? Wallahu a'lamu.

Ya seperti dalam semua peristiwa lainnya, orang madura selalu punya cara sendiri.

Saat saya menulis artikel ini, saya sedang duduk santai di rumah sepupu sambil mendengarkan musik dangdut dari tetangganya yang sedang hajatan mantenan. Undangannya banyak sekali, satupun tidak ada yang mengenakan masker dan jaga jarak. Padahal baru saja tetangga shohibul hajat meninggal dunia akibat "penyakit sesak nafas" atau "panyaket se sateyah".

Dan itu terjadi dimana-mana bukan hanya di dekat rumah sepupu saya ini.